Tapi terang tak berarti tanpa gelap

 Begitu banyak hal yang memicu cemas, membuatku sempat gemetar dalam ragu. Namun, di tengah riuh itu, aku memilih berhenti sejenak—menenangkan pikir, memeluk sadar.

Merawat trauma ternyata memang jauh lebih pelik daripada menyembuhkannya.

Hari ini, aku mencoba berdamai lagi dengan luka lama yang sempat menyayat begitu hebat. Aku menerimanya tanpa perlu menyalahkan dia yang menorehkannya. Mungkin, dia hanya sedang bingung membawa lukanya sendiri, lalu tanpa sadar membaginya bersamaku. Dia lupa bahwa aku pun punya luka yang belum pulih. Dan saat luka baru itu tergores, dia tak tahu cara mengobatinya—karena sejatinya, dia pun sedang menjerit ingin disembuhkan.

Tak apa, kini kuterima setiap perih ini dengan lapang. Akan kurawat ia dengan baik, seperti aku merawat trauma-traumaku yang lalu, hingga nanti ia melunak dan menjelma menjadi kedamaian.

Komentar

Postingan Populer